Fidratan Lions
“ TINTA EMAS ”
yang telah “KAU” bubuhkan dalam “ SETIAP LEMBARAN”, telah ditampar dengan sebuah penilaian subjektif
yang mengarah pada sebuah kelulusan dan
kerja nyata. Dan sudah menjadi tradisi bahwa orientasi kelulusan STT GPI Papua
Fakfak lebih banyak mengarah
pada kampung dan pedalaman.
Yang akhirnya menghadirkan pertanyaan klasik, Apakah karena mereka tidak mampu? Apakah
karna mereka lebih cocok atau karena yang lain tidak mampu? Ataukah karena
mereka tidak memiliki pengaruh, sehingga harus disisihkan ditempat yang
demikian? Walaupun dalam tugas pembritaan Injil, tidak dikenal batasan ruang
dan waktu.
Semua diam seribu Bahasa. Bagaimanakah kita menyikapinya? Jawaban pasti,“biarlahAllah yang akan berperkara untuk memberikan
kebenaran dan keadilan”.
Namun di dalam
kenyataan ini, “ KAU” terus melahirkan aktor-aktor yang militan, yang bergerak
bagaikan prajurit yang bertempur dari tepian pantai hingga ke pedalaman dan pegunungan.
Mereka bertempur tidak mengenal ganasnya terik matahari dan dinginya udara
pegunungan. Di sudut-sudut “ Medan”, mereka dengan setia menggarap,
mengusahakan dan menanam. Walaupun konsumsi mereka adalah, “makanan kasar”.
Beda dengan mereka yang konsumsinya “Makanan Halus”.Bagaikan “Mana” yang turun
dari langit.
Maka dari itu,
“KAU” pantas untuk berada pada posisi “Teras” (1) bukan berada pada posisi
“dapur” (2) sebab prajuritmu sudah terbukti dan teruji di medan perang.
Bahwasannya, terlahir pula dari “Rahim Besar”. Yang mengandung 446 anak.
Kami kembali teringat akan nasihat
dari Rasul Paulus.
Menurut Rasul Paulus, hamba-hamba
Tuhan menepati posisi terendah. Hamba-hamba Tuhan adalah orang-orang yang
menjadi bodoh karena Kristus, lemah dan hina (tontonan bagi dunia, malaikat dan
manusia). Bahkan Rasul Paulus berkata bahwa, hambah-hamba Tuhan adalah sama
dengan sampah dunia, sama dengan kotoran
dari segala sesuatu (I Kor.4:9,10,13)—kami tidak memiliki harga atau kebanggaan
apapun.

Komentar
Posting Komentar